Oleh: Akhmad Sururi
(Wakil Ketua DPW FKDT Jawa Tengah)
Setiap akhir tahun pelajaran, Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) selalu menyelenggarakan kegiatan Imtihan dan Akhirus Sanah. Kegiatan ini telah menjadi tradisi yang mengakar kuat semenjak berdirinya MDT—yang dahulu lebih akrab disebut sebagai Madrasah Diniyah atau "Sekolah Arab". Hingga saat ini, tradisi tersebut masih lestari dan semarak dilaksanakan di berbagai daerah, tepatnya pada bulan Sya’ban (menjelang Ramadan).
Uji Mental di Atas Panggung
Secara etimologi, kata "Imtihan" berarti ujian. Dalam praktiknya, kegiatan ini merupakan ujian lisan terbuka. Setiap murid MDT diuji satu per satu dengan naik ke atas panggung di hadapan khalayak. Penguji biasanya adalah guru MDT setempat, meskipun pada masa lampau, penguji sering kali didatangkan dari guru MDT tetangga desa untuk menjaga objektivitas dan wibawa ujian.
Imtihan bukan sekadar evaluasi akademik, melainkan sebuah uji mental. Murid-murid menjawab berbagai pertanyaan yang telah mereka hafalkan sebelumnya. Pertanyaan biasanya diawali dengan identitas diri dalam bahasa Arab: “Man ismuka?” (Siapa namamu?), “Man abuka?” (Siapa ayahmu?), dan seterusnya. Setelah itu, penguji akan masuk ke materi inti sesuai kelas masing-masing, mulai dari akidah, fikih, hingga tata bahasa Arab. Proses ini memakan waktu yang cukup panjang karena melibatkan seluruh siswa dari kelas satu hingga kelas empat secara berurutan.
Akhirus Sanah: Pencerahan bagi Umat
Pada malam harinya, setelah prosesi Imtihan selesai, acara dilanjutkan dengan Pengajian Umum Akhirus Sanah. Itulah mengapa di papan latar (backdrop) panggung sering tertulis "Pengajian Imtihan dan Akhirus Sanah".
Dalam sesi ini, pihak madrasah mendatangkan mubalig atau penceramah untuk menyampaikan pesan-pesan keagamaan. Pesan ini ditujukan bagi wali murid dan masyarakat umum sebagai bentuk pertanggungjawaban spiritual serta pencerahan mengenai pentingnya membekali anak-anak dengan ilmu agama.
Warisan Rahim Pesantren SalafTradisi Imtihan lahir dari rahim Pesantren Salaf. Di pesantren, para santri diuji secara spontan oleh tamu undangan atau kyai tanpa pemberitahuan materi sebelumnya. Sebagai lembaga pendidikan yang memiliki ikatan ideologis dan historis dengan pesantren, MDT mengadopsi tradisi ini. Hingga kini, MDT terus konsisten mengajarkan keilmuan berbasis kitab kuning (turats) yang menjadi ciri khas pesantren.
Menariknya, seiring perkembangan zaman, tradisi ini tidak lagi menjadi monopoli lembaga keagamaan. Saat ini, lembaga pendidikan formal seperti SD, SMP, hingga SMK pun mulai mengadopsi konsep pengajian akhir tahun dalam bentuk acara pelepasan peserta didik.
Mempertahankan Substansi
Tradisi Imtihan dan Akhirus Sanah perlu kita pertahankan sebagai warisan luhur para pendahulu. Substansi dari Imtihan adalah memperlihatkan potret nyata kompetensi lulusan MDT kepada masyarakat. Lebih dari itu, pengajian Akhirus Sanah diharapkan terus menjadi motor penggerak dan motivasi bagi para orang tua untuk menyadari bahwa pendidikan keagamaan adalah fondasi utama bagi masa depan generasi bangsa.