BULAKAMBA, BREBES — Suasana religius menyelimuti SMKN 1 Bulakamba pada awal bulan Ramadan 1447 H. Ratusan siswa mengikuti kegiatan Pesantren Ramadan yang dibuka secara khidmat dengan khataman Al-Qur'an 30 juz. Seluruh siswa, baik putra maupun putri, secara serentak membaca ayat demi ayat yang telah dibagi rata hingga tuntas.
Ketua Tim Pesantren Ramadan Center (PRC) Kabupaten Brebes, Akhmad Sururi, menyampaikan apresiasi yang mendalam atas inisiasi religius tersebut.
"Saya sangat mengapresiasi nuansa religius di SMKN 1 Bulakamba. Tadi kita saksikan bersama pembacaan Al-Qur'an 30 juz yang dipungkasi dengan doa Khotmil Qur'an. Ini adalah pencapaian yang sangat luar biasa untuk mengawali sebuah kegiatan," ujar Akhmad Sururi di Aula Pangeran Diponegoro SMKN 1 Bulakamba, Kamis (15/3/2026).
Filosofi "Santri": Cahaya Iman, Syariat, dan AkhlakDi hadapan para siswa, Sururi menegaskan bahwa Pesantren Ramadan di sekolah formal merupakan ikhtiar untuk mengokohkan fondasi spiritual siswa melalui penguatan akidah, pengamalan syariat, dan penanaman akhlak mulia.
Beliau memaparkan filosofi kata "Santri" sebagai refleksi diri bagi para peserta. "Santri dapat diartikan sebagai perpaduan 'San' yang bermakna cahaya, dan 'Tri' yang berarti tiga. Pertama adalah cahaya keimanan, kedua cahaya syariat, dan ketiga cahaya akhlak. Ketiganya harus menyatu dalam diri seorang muslim," lanjut Akhmad Sururi.
Ketua DPC FKDT Kabupaten Brebes ini menambahkan bahwa akidah berperan sebagai fondasi, syariat atau fikih sebagai ketentuan hukum ibadah, serta akhlak sebagai perisai dalam berinteraksi sosial, termasuk kepada sesama teman. Selama satu minggu ke depan, tim narasumber dari PRC akan mendampingi siswa untuk mendalami keilmuan tersebut.
Komitmen Kepala SekolahKepala SMKN 1 Bulakamba, Mas Rudiyanto, turut mengapresiasi kedisiplinan para siswa yang berhasil mengkhatamkan Al-Qur'an. Ia menekankan bahwa kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW harus dibuktikan dengan kepatuhan terhadap ajaran agama.
"Ini adalah langkah memperkuat keyakinan kita. Perlu diingat, tidak semua orang ingin masuk surga; ada sekelompok orang yang seolah enggan masuk surga, yakni mereka yang menentang perintah agama. Mari kita gunakan momentum ini untuk menjadi hamba yang lebih taat," tutur Mas Rudiyanto.
Acara pembukaan ini juga dihadiri oleh Ketua Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) sekaligus Wakil Ketua Tim PRC, KH. Mu'min Syafiq, Lc. Beliau memimpin doa penutup pada sesi seremoni, menandai dimulainya rangkaian pendalaman agama secara resmi.