Profil H. Nuridin Idris: Figur Teladan di Balik Istiqomah Menjaga Al-Qur'an dan Kesuksesan Wirausaha

Oleh: Akhmad Sururi

​Di Kabupaten Brebes, nama H. Nuridin Idris identik dengan sosok pengusaha sukses yang visioner. Jejak usahanya yang dirintis selama puluhan tahun kini menjelma menjadi beberapa unit bisnis megah yang tersebar di titik strategis. Mulai dari penyedia kebutuhan pertanian (pupuk dan obat-obatan) serta material bangunan dengan bendera Rekso Tani, hingga toserba Rekso Mart yang berdiri kokoh di Jalan Raya Jatibarang-Sitanggal KM 2, Desa Rengaspendawa, Kecamatan Larangan.

​Namun, di balik hiruk-pikuk kesuksesan dunianya, H. Nuridin Idris menyimpan sisi spiritual yang mendalam sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Modern Tahfidzul Qur'an Nuridin Idris. Baginya, kesuksesan bisnis hanyalah sarana, sedangkan khidmat di pesantren adalah tujuan hati.

​Dari Ruang Toko ke Meja Simakan

​Dedikasi pria kelahiran 14 Agustus 1958 ini terhadap pendidikan Al-Qur'an patut diacungi jempol. Setelah menuntaskan urusan manajemen di unit-unit usahanya, beliau menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengajar dan menyimak setoran hafalan para santri secara langsung.

​Pesantren yang didirikannya sejak tahun 2017 ini kini telah berkembang pesat. Dari asrama putra sederhana di samping kediaman pribadinya, kini telah berdiri kompleks asrama baru yang megah dengan luas area yang sangat memadai. Kepercayaan masyarakat pun kian menguat, terbukti dengan jumlah santri yang kini mencapai lebih dari 1.200 orang.

​Darah Pendidik dan Aktivis Nahdlatul Ulama

​Jiwa pendidik H. Nuridin sebenarnya bukanlah hal baru. Di masa muda, beliau pernah mengabdi sebagai guru MI Kedawon. Beliau juga merupakan tokoh kunci (pionir) di balik berdirinya berbagai lembaga pendidikan di Dukuh Kedawon, seperti MTs Miftahul Ulum hingga SMK NU Ma’arif Larangan.

​Kiprahnya sebagai aktivis Nahdlatul Ulama (NU) pun sangat cemerlang. Dimulai dari IPNU, loyalitasnya kepada ulama berlanjut hingga menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah MWC NU Larangan dan Bendahara PCNU Kabupaten Brebes. Berdiskusi tentang ke-NU-an dengan beliau akan terasa hidup dan penuh wawasan karena landasan ideologisnya yang kuat.

​Disiplin Spiritual: Membentuk Karakter Santri

​Sebagai pengasuh, H. Nuridin adalah figur yang sangat disiplin. Kebiasaan bangun sebelum subuh untuk melaksanakan salat Tahajud dan wirid telah menjadi rutinitas sepanjang hayat. Kedisiplinan ini pula yang beliau terapkan saat menyimak hafalan santri. Beliau sangat teliti terhadap setiap makhraj dan tajwid, yang secara tidak langsung membentuk santri untuk selalu melakukan persiapan matang sebelum maju setoran.

​Bentuk kecintaan beliau kepada Al-Qur'an juga diwujudkan lewat berbagai stimulus:

  • Stimulus Hafalan: Memberikan apresiasi sebesar Rp500.000 bagi santri yang mampu menghafal 1 juz dalam waktu 20 hari.
  • Penghormatan Simbolis: Mewajibkan para penguji (munaqis) mengenakan baju toga sebagai bentuk takzim terhadap kemuliaan Al-Qur'an.
  • Beasiswa Pendidikan: Menanggung biaya makan bulanan bagi santri hafidz 30 juz yang berhasil lolos ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN) selama mereka tetap tinggal di pesantren.

​Menjadikan Al-Qur'an sebagai Nafas Kehidupan

​Bagi H. Nuridin Idris, target hafalan bukan hanya sebatas bi lafdzi (secara lafal), melainkan mencakup pemahaman terjemahan dan makna ayat. Cita-cita besarnya adalah agar Al-Qur'an benar-benar meresap menjadi jiwa dan perilaku sehari-hari bagi para santri, sebagaimana yang telah beliau contohkan dalam keseimbangan antara bekerja dan beribadah.

Previous Post Next Post

ظ†ظ…ظˆط°ط¬ ط§ظ„ط§طھطµط§ظ„