WANASARI, BREBES — Pengurus Masjid Jami Baiturrohim Jagalempeni Selatan, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, kembali menyelenggarakan kegiatan Pesantren Ramadan 1447 H. Kegiatan yang telah menjadi program rutin tahunan ini berlangsung selama sepuluh hari terakhir Ramadan, yakni tanggal 20 hingga 29 Ramadan 1447 H, dengan menyasar peserta didik tingkat SD dan MI di wilayah sekitar.
Selaku inisiator kegiatan, Akhmad Sururi, mengungkapkan bahwa program ini telah berjalan secara konsisten sejak tahun 2016 dan hanya sempat terhenti sekali akibat pandemi Covid-19. Hingga kini, Pesantren Ramadan tetap menjadi program unggulan yang mendapatkan dukungan penuh dari masyarakat.
"Alhamdulillah, program ini melibatkan seluruh pengurus musala se-Jagalempeni Selatan. Partisipasi masyarakat sangat luar biasa dalam mendukung kegiatan yang sudah berjalan kurang lebih sepuluh tahun ini," ujar Akhmad Sururi.
Sistem Mukim dan Kedisiplinan IbadahSekretaris MWC NU Wanasari ini menuturkan bahwa berbeda dengan pesantren kilat biasa, Pesantren Ramadan di Masjid Jami Baiturrohim menerapkan sistem menginap (mukim). Peserta putri menempati Majelis Taklim Hj. Nur Janah, sedangkan peserta putra bertempat di MDT Hidayatul Mubtadiin Jagalempeni Selatan.
Karena lokasi penginapan yang berdekatan dengan masjid, seluruh santri diwajibkan melaksanakan salat lima waktu secara berjamaah, termasuk salat Tarawih dan Mujahadah Qiyamullail. "Mujahadah Qiyamullail dilaksanakan mulai pukul 02.00 hingga 03.00 WIB setiap dini hari," jelas pria yang juga menjabat sebagai Ketua DPC FKDT Kabupaten Brebes tersebut.
Kurikulum Berbasis Pesantren dan Fasilitas Gratis
Mengenai materi pembelajaran, alumnus Pondok Pesantren Lirboyo angkatan 2000 ini menjelaskan bahwa kurikulum selama 10 hari mencakup bidang Akidah, Fikih, Akhlak, dan Tadarus Al-Qur'an. Seluruh proses belajar mengajar dibimbing oleh para tutor yang memiliki latar belakang pendidikan pesantren yang kuat.
Menariknya, seluruh fasilitas mulai dari pendaftaran hingga konsumsi disediakan secara gratis.
"Sejak awal berdiri, buka puasa dan sahur kami sediakan gratis bagi peserta. Sumber dananya berasal dari infak gotong royong jamaah masjid dan musala se-Jagalempeni Selatan," tambah Akhmad Sururi.
Mencegah Lost Learning Agama
Kehadiran Pesantren Ramadan dinilai sangat penting untuk menghindari terjadinya lost learning atau hilangnya pemahaman agama pada anak-anak. Menurut Sururi, tanpa kegiatan intensif seperti ini, waktu libur anak-anak kemungkinan besar akan habis untuk bermain atau sekadar bersentuhan dengan gawai (handphone).
"Kita ingin mengisi hari-hari mereka dengan praktik ibadah langsung, bukan sekadar teori. Harapannya, melalui Pesantren Ramadan ini, akan lahir generasi di Jagalempeni Selatan yang berakhlak mulia dan memiliki nilai religiusitas yang tinggi," pungkas Wakil Ketua DPW FKDT Jawa Tengah tersebut.