DPC FKDT Kab Brebes Selenggarajan Diskusi Kurikulum Via Zoom

DPC FKDT Kab Brebes Selenggarajan Diskusi Kurikulum Via Zoom 

Dewan Pengurus Cabang Forum Komunikasi Diniyah Takmiluah ( DPC FKDT ) menyelenggrakan diskusi tetang Kurikulum MDT di Kab Brebs via zoom.  Diskusi yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 1 Agustus 2026 via zoom dihadiri oleh Ketua DPC FKDT Kab Brebes selaku pemantik.  Adapun peserta zoom ada 12 orang terdiri dari Tim LKS dan beberapa Ketua DPAC FKDT Kecamatan.  
Diskusi  berlangsung selama satu jam lebih sebagai bagian awal untuk merencanakan bedah buku panduan Kurikulum MDT  yang diterbitkan oleh Kementeruan Agama.

Buku tersebut menjadi pedoman bagi penyelenggaran MDT dalam melaksanakan proses pembelajaran se Indonesia. Kehadiran buku tersebut juga melalu proses diskusi Panjang di Kementerian Agama dengan menghadirkan praktisi MDT. 
Ketua DPC FKDT Kab Brebes  Akhmad Sururi , membuka forum diskusi via zoom dengan Al Fatihah yang diikuti oleh seleuruah peseta zoom. Melalui zoom Sururi mengatakan bahwa kurikulum merupakan bagian yang terpenting dalam pendidikan. Perubahan kurikulum  di lembaga pendidkan formal menjadi sebuah keniscayaan karena berdasarkan berbagai pertimbangan, termasuk pertimbangan  perkembangan llmu pengetahuan dan teknologi. 

Sebagai lembaga pendidikan, lanjut Sururi  MDT memilik kurikulum  yang sudah  berjalan sejak MDT tersebut berdiri. Namun demikian ada perbedaan antara kurikulm di lembaga pendidikan formal seperti MI, MTs, SD dan SMP berbeda dengan kurikulum di Madrasah Diniyah Takmliliyah . Mayoritas Madrasah Diniyah menggunakan kurikulum ala Pesantren, seperti Mabadi Fiqih, Aqidatul  Awam, Tuhfatrul Atfal, Hidayatus Shibyan dan kitab kitab yang lain.  Meskipun ada juga beberapa MDT yang menggunakan Kurikulum model Kemenag. 

“ Sistematika pembahasan dalam kitab Pesantren berberda dengan struktur pembahasan kurikulum pada lembaga pendidikan formal. Contoh dalam kitab Tajwid Hidayatus Shibyan yang biasa digunakan untuk kelas 3 MDTA muncul pembahasan hukum nun mati dan tanwin. Pada saat murid MDTA naik dfi kelas tigad menerima mata pelajaran Tajid dengan kitab Tuhfatul  Atfal uga ada pembahasan hukum nunu mati dan tanwin. Ini artiny ada  tema yang sama dalam satu jenjang meskipun nama kitabnya berbeda.  Begitu  juga dengan Fiqih dari  ktab  Mabadi Fiqih, Safinah sampai dengan Taqrib ada pembahasan yang sama meskipun dengan memiliki  tingkat  pendalaman saat naik  kelas dengan nama kitab yang berbeda,” ungkap alumni Lirboyo Kediri

“ Lain halnya dengan struktur pembahasan kurikulum pada lembaga pendidikan formal dalam satu jenjang. Bab “ Taharah atau berrsuci “  dalam mapel Fiqih yang sudah dibahas pada saat kelas satu, maka kelas dua sampai lulus dakan satu jenjang pendidikan formal tersebut tidak dtemukan lag.  Artinya  materi yang sudah disampaikan saat kelas satu tidak diukang kembali saat keals 2 dan berikutnya yang asuh dalams atu jenjang, ‘ lanjut Akhmad Sururi 
Sementara saat seakarang menurut Akhmad Sururi kita dihadapkan dengan situasi perkembangan zaman yang berbeda dengan puluhan tahun yang lalu , maka dibutuhkan inovasi  dalam pengembangan kurikulum. Oleh karena itu inovasi kurikulum juga dibutuhkan seyampang dengan perkembangan ilmu pengetahuan  dan teknologi. 

Meski demikian menurut Akhmad Sururi ada hal yang  prinsip untuk dipertahankan. Hal tersebut searah dengan kaidah “ Al Muhafdlotu ala qodimsh sholih wal akhdzu bil jadidil Ashalh “  . Secara praksis kitab kuning atau turas satu sisi harus menjadi ciri khas MDT, disisi yang lain metode pembelajaran dan pengembangan kurikulum harus kita upayakan. 

Menanggapi hal tersebut, Ketua DPAC FKDT Kec Paguyangan , Mutasim Billah, sangat setuju adanya inovasi dan pengembagan kurikulum MDT.  Sebelum menurut dirinya agar MDT se Kab Brebes melalui  DPAC FKDT Kecamatan dapat menyamakan persepsi standarisasi kurikulum MDT. Saat sakarang  masing masing MDT se Kab Brebes beleum semuanya memiliki materi yang standar dalam  kurikulum. Sehingga muculnya buku Standarisasi kurikulum dari Kemenag sangat diharapkan menjadi landasan operasional dalam mengimplementasikan kurikulum MDT. 

Senada dengan Mutasim, Ketua DPASC FKDT Kec Losari  H Nurohman juga sependapat dengan ide inovasi dan pengembangan kurikulum.  Hal ini sangat mendesak di  Kab Brebes agar proses pembelajaran semakin ada peningkatan. Selama ini mata pelajaran atau kurikulum di MDT antara MDT satu kecamatan dengan kecamatan lainya mungkin berbeda. Oleh kerena itu disinilah dibutuhkan standarisasi kurikulum MDT Kab Brebes. 

Dari beberapa masukan dalam forum tersebut, DPC FKDT Kab Brebes sangat diharapkan bisa menfasilitas forum diskusi tentang kurikulum MDT dengan menghadirkan nara sumber yang membidangi.  Untuk keperluan tersebut DPC FKDT Kab Brebes dalam jangka dekat akan menyelenggarkan pertemuan dengan mengundang berberapa pengurus DPAC FKDT Kecamatan dan orang orang yang berkompeten tentang kurikulum MDT.
Previous Post Next Post

ظ†ظ…ظˆط°ط¬ ط§ظ„ط§طھطµط§ظ„