Guru MDT: Garda Terdepan dalam Penguatan Pendidikan Akhlak dan Karakter

KAJEN, PEKALONGAN — Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) diibaratkan sebagai "sawah" persemaian nilai-nilai agama, sementara masjid adalah "lumbung" hasil panennya. Filosofi ini menekankan betapa krusialnya peran guru MDT dalam membentuk fondasi spiritualitas generasi muda di tengah tantangan zaman.

​Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua DPW FKDT Jawa Tengah, Akhmad Sururi, dalam acara Pembinaan Guru MDT yang tergabung dalam FKDT Kabupaten Pekalongan di Aula Kemenag Kabupaten Pekalongan, Senin (13/4/2026).

​Sinergi Kolektif demi Karakter Bangsa

​Dalam arahannya, Akhmad Sururi menegaskan bahwa pembentukan generasi berakhlak adalah tanggung jawab kolektif. "Guru MDT, guru sekolah formal, orang tua, tokoh masyarakat, hingga pemerintah memiliki peran masing-masing yang saling mengunci. Kita semua harus bersinergi mengawal tumbuh kembang anak agar memiliki karakter keagamaan yang kokoh," ujarnya.

​Sebagai lembaga tafaqquh fiddin (pendalaman ilmu agama), Sururi menjelaskan bahwa proses pembelajaran di MDT wajib didasari oleh nilai-nilai tauhid. Sesuai dengan tradisi kitab kuning di pesantren, tauhid adalah ilmu pertama yang wajib dipelajari bagi setiap muslim mukalaf sebelum melangkah ke syariat dan akhlak.

​Integrasi Keilmuan ala Imam Ghazali

​Merujuk pada mahakarya Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali, Sururi memaparkan konsep integrasi antara iman (tauhid), syariat (fikih), dan akhlak (tasawuf).

​"Imam Ghazali menyatukan tiga ranah utama dalam pendidikan: Ilmu (kognisi), Hal atau sikap (afektif), dan Amal atau keterampilan (psikomotorik). Ketiga dimensi ini harus hadir secara utuh dalam kurikulum MDT untuk mencetak manusia yang paripurna," papar pria yang juga menjabat sebagai Wakil Sekjen DPP FKDT tersebut.

​Masjid sebagai Indikator Kedamaian Masyarakat

​Sururi juga menyoroti aspek sosiologis di mana kedamaian sebuah kampung sering kali ditandai dengan ramainya tempat ibadah. Oleh karena itu, ia mengimbau para guru MDT untuk membiasakan para santri berjamaah di masjid atau mushala terdekat.

​Langkah ini sejalan dengan program "Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat" yang dicanangkan pemerintah, di mana kebiasaan beribadah menjadi salah satu poin sentral. "Untuk beribadah dengan benar, anak-anak perlu belajar di MDT. Inilah titik temu pentingnya sinergisitas antara pendidikan formal dan madrasah diniyah," imbuhnya.

Menagih Esensi UU Sisdiknas

​Sebagai praktisi, Sururi mengingatkan bahwa tujuan pendidikan nasional yang termaktub dalam UU Sisdiknas—yakni membentuk manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia—sering kali hanya menjadi diksi normatif yang terlupakan. Padahal, ketiga hal tersebut merupakan pondasi utama karakter bangsa yang dipraktikkan setiap hari di lingkungan MDT.

​Kegiatan yang berlangsung di Jl. Krakatau No. 7 Kajen ini dihadiri oleh Kasi PD Pontren Kemenag Kabupaten Pekalongan, H. Nurul Furqon, S.E., beserta jajaran staf. Turut hadir Kiai Mutrofin, S.H. selaku Ketua DPC FKDT Kabupaten Pekalongan, yang dalam sambutannya kembali menekankan pentingnya menjaga kualitas tafaqquh fiddin di setiap unit MDT di Kabupaten Pekalongan.

Previous Post Next Post

ظ†ظ…ظˆط°ط¬ ط§ظ„ط§طھطµط§ظ„