WANASARI, BREBES — Pimpinan Yayasan Al Fattah, H. Musyaffa, Lc. (Gus Syaffa), menekankan pentingnya penguatan pemahaman keagamaan Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) bagi kader muda Nahdlatul Ulama, khususnya di lingkungan SMA NU Al Fattah Tegalgandu, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes.
Hal tersebut ditegaskan Gus Syaffa saat memberikan sambutan dalam kegiatan Penguatan Ideologi Aswaja bagi kader IPNU-IPPNU Komisariat SMA NU Al Fattah, Jumat (24/4/2026).
Mengapa Mengikuti NU?
Gus Syaffa melontarkan pertanyaan reflektif kepada para peserta: "Mengapa kita memilih NU?". Menurutnya, ber-NU tidak boleh hanya sekadar mengikuti tradisi orang tua atau karena faktor lingkungan. Kader pelajar harus memiliki keyakinan kuat bahwa NU dengan ajaran Aswaja An-Nahdliyah adalah ideologi yang kokoh untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
"Kalian sebagai kader harus bisa menjabarkan mengapa memilih NU. Kita harus memahami NU secara komprehensif, mulai dari sejarah berdirinya hingga peran NU di masa kini. Jangan hanya berhenti pada tataran ritual semata, tapi pahami NU sebagai ideologi mayoritas dunia dan Indonesia," papar Gus Syaffa.
Beliau juga menambahkan bahwa menumbuhkan kualitas kader sejak usia sekolah adalah bentuk komitmen jangka panjang dalam menjaga keberlangsungan organisasi.
Tantangan Narasi untuk KaderSebagai bentuk apresiasi dan pemacu semangat, Gus Syaffa menjanjikan hadiah bagi peserta yang mampu menuliskan narasi terbaik mengenai NU. Ada dua poin utama yang menjadi tantangan:
- Apa yang kamu ketahui tentang NU?
- Bagaimana potret NU hari ini?
Tugas narasi ini diharapkan menjadi bukti adanya progres pemahaman yang mendalam setelah mengikuti kegiatan penguatan ideologi tersebut.
Kilas Balik Sejarah Aswaja
Dalam kesempatan yang sama, Akhmad Sururi hadir sebagai narasumber yang memaparkan sejarah perkembangan Aswaja. Ia menjelaskan bahwa benih-benih perbedaan mulai muncul pasca-wafatnya Rasulullah SAW, yang kemudian meruncing sejak era Sahabat Utsman bin Affan hingga Sahabat Ali bin Abi Thalib.
"Perpecahan tersebut merembet ke ranah pemahaman keagamaan. Hingga akhirnya muncul tokoh besar seperti Imam Asy'ari dan Imam Al-Maturidi yang mendeklarasikan faham Ahlussunnah wal Jama'ah sebagai jalan tengah," jelas Akhmad Sururi dalam pemaparannya.
Kehadiran Tokoh dan Pengurus
Kegiatan ini diikuti dengan antusias oleh para kader IPNU dan IPPNU. Turut hadir menyaksikan jalannya acara:
- Ibu Rikhatul Unim, S.Pd. (Kepala SMA NU Al Fattah).
- Pembina IPNU/IPPNU Komisariat SMA NU Al Fattah.
- Ketua dan jajaran pengurus Komisariat IPNU-IPPNU SMA NU Al Fattah.