Mengurai Empat Pilar Pendidikan Islam: Refleksi Gagasan Kepala MI Sirojut Tholibin Brebes

BREBES — Dalam khazanah pemikiran Islam, pendidikan tidak sekadar dimaknai sebagai proses transfer pengetahuan formal semata, melainkan sebuah proses pembentukan manusia seutuhnya (insan kamil). Keberadaan pendidikan Islam pun menjadi pilar utama yang menyatu tak terpisahkan dalam fondasi Sistem Pendidikan Nasional.

​Hal tersebut ditegaskan oleh Kepala MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, Akhmad Sururi, saat mengurai empat istilah sentral pendidikan Islam: Ta’lim, Ta’dib, Tarbiyah, dan Tadris.

​1. Ta’lim: Proses Pemberdayaan Intelektual (Transfer of Knowledge)

​Secara epistemologis, ta’lim bertumpu pada proses transformasi ilmu pengetahuan. Mengutip pandangan pakar pendidikan Islam, Prof. Dr. Abdul Fattah Jalal, Sururi menjelaskan bahwa ta'lim merupakan proses pemberian pengetahuan, pemahaman, serta pembekalan keterampilan agar manusia terbebas dari kebodohan dan siap menerima hikmah.

​"Secara prinsip, ta’lim adalah ikhtiar manusia yang berlangsung sepanjang hayat (long-life education) untuk bergerak dari ketidaktahuan menuju keilmuan. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah An-Nahl ayat 78 mengenai proses hadirnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani sebagai sarana belajar," ujar Sururi.


​2. Ta’dib: Internalisasi Adab dan Penyempurnaan Akhlak

​Selanjutnya, alumni Pondok Pesantren Lirboyo Kediri ini menguraikan konsep ta'dib yang berakar dari kata addaba-yuaddibu-ta'diban (mengajarkan sopan santun/adab). Merujuk pemikiran Syed Muhammad Naquib Al-Attas, ta'dib adalah penanaman pengakuan dan pengenalan secara berangsur-angsur tentang kedudukan segala sesuatu dalam tatanan penciptaan, yang bermuara pada pengakuan keagungan Tuhan.

​"Jika ta’lim menekankan pada aspek kognitif, maka ta’dib menitikberatkan pada pembinaan akhlak. Ta’dib mencakup sintesis dari pengetahuan, pengajaran, dan pengasuhan yang diwujudkan dalam tindakan dan budi pekerti luhur," imbuhnya.

​3. Tarbiyah: Pengasuhan Bertahap Menuju Kesempurnaan

​Adapun istilah tarbiyah (robba-yurabbi-tarbiyatan) mengandung arti tindakan mengasuh, mendidik, serta memelihara. Menukil pandangan Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi dan Al-Asfahani, tarbiyah difahami sebagai proses penyampaian sesuatu menuju batas kesempurnaan yang dilakukan secara bertahap (tadarruj) sesuai kapasitas peserta didik.

​Secara filosofis, tarbiyah tidak hanya menyasar pembinaan potensi rohani manusia, tetapi juga mencakup pemeliharaan tatanan kehidupan agar eksistensinya tetap terjaga secara seimbang.

​4. Tadris: Metodologi Pengkajian dan Pembiasaan Mandiri

​Sementara itu, at-tadris dimaknai sebagai upaya konstruktif untuk menyiapkan murid (mutadarris) agar mampu membaca, mengkaji, dan mempelajari ilmu secara mandiri. Proses ini melibatkan pendidik (mudarris) yang membimbing melalui pengulangan, penjelasan, dan diskusi mendalam.

​"Tujuan akhir dari at-tadris adalah agar peserta didik tidak hanya memahami dan mengingat pelajaran, tetapi juga mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari demi menggapai keridaan Allah SWT," pangkas Kepala MI Sirojut Tholibin.


​Kesatuan Konseptual menuju Insan Rabbani

​Menutup pemaparannya, Akhmad Sururi menegaskan bahwa keempat istilah tersebut saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Keempatnya mengisyaratkan pentingnya kualifikasi guru, metode yang bijak, serta proses berkelanjutan untuk melahirkan generasi muslim yang berakal budi mulia.

​"Secara komprehensif, istilah At-Tarbiyah merupakan terminologi yang paling representatif untuk menggambarkan keseluruhan esensi Pendidikan Islam. Hal ini memiliki landasan filosofis yang kokoh, sebagaimana diisyaratkan dalam Al-Qur'an Surah Ali Imran ayat 79 tentang perintah untuk menjadi insan rabbani," pungkas Sururi.

Previous Post Next Post

ظ†ظ…ظˆط°ط¬ ط§ظ„ط§طھطµط§ظ„