Oleh: Akhmad Sururi
(Wakil Ketua DPW FKDT Jawa Tengah / Pemerhati Pendidikan Diniyah)
Di tengah laju dinamika zaman yang bergerak dinamis, arah pembangunan sumber daya manusia di Indonesia tidak cukup hanya berfokus pada kecerdasan intelektual. Bangsa ini membutuhkan artikulasi generasi yang seimbang: unggul secara keilmuan, matang secara emosional, mandiri secara sosial, serta memiliki fondasi spiritual yang kokoh.
Dalam konteks tersebut, keberadaan lembaga pendidikan keagamaan menemukan posisi yang sangat vital. Salah satu pilar utamanya adalah Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT), sebuah institusi pendidikan keagamaan berbasis masyarakat (community-based education) yang tumbuh dari bawah. MDT hidup di kompleks masjid, mushala, pesantren, hingga yayasan keagamaan sebagai ruang penanaman nilai adab, fikih, serta pembentukan karakter generasi muda.
Mengacu pada data Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Agama 2025–2029, saat ini tercatat lebih dari 105 ribu lembaga MDT yang mengampu sekitar 2,9 juta santri di seluruh Indonesia. Angka ini menegaskan bahwa MDT bukan lagi pelengkap sub-sistem, melainkan entitas strategis dalam ekosistem pendidikan nasional.
FKDT: Rumah Besar dan Mobilisator Gagasan
Keberadaan Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) memainkan peran esensial untuk memperkuat ekosistem tersebut. FKDT tidak boleh terjebak sekadar sebagai organisasi administratif kelembagaan atau wadah kegiatan seremonial semata. Lebih dari itu, FKDT harus memposisikan diri sebagai rumah besar perjuangan MDT, pusat konsolidasi gagasan, serta jembatan komunikasi antara pengelola madrasah, pemerintah, dan pemangku kepentingan (stakeholders).
Secara yuridis dan historis, kekuatan MDT bertumpu pada partisipasi swadaya masyarakat. FKDT bertugas merawat tradisi kemandirian ini sembari melakukan modernisasi tata kelola demi merespons standar mutu pendidikan modern.
Pergeseran Paradigma: Dari Kuantitas Menuju Kualitas
Tantangan utama pendidikan keagamaan ke depan tidak lagi berfokus pada kuantitas jumlah lembaga, melainkan pada akselerasi mutu. Peningkatan kompetensi pendidik, relevansi kurikulum, akuntabilitas tata kelola, dan standarisasi sarana-prasarana menjadi prasyarat mutlak agar MDT tidak ditinggalkan oleh masyarakat yang semakin kritis.
Dalam merespons era digital, penguatan MDT perlu berpijak pada kaidah usul fikih klasik:
المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح
"Al-muhafadhatu 'alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah"
(Mempertahankan tradisi lama yang baik dan mengadopsi inovasi baru yang lebih maslahat).
Penerapan kaidah ini berarti tradisi literasi turats (kitab kuning) dan penanaman adab tetap dipertahankan sebagai benteng moral, sementara literasi digital, pola pikir kritis (critical thinking), dan etika komunikasi siber diintegrasikan sebagai instrumen adaptasi zaman.
Guru MDT dan Sinergi Kebijakan Publik
Aktor kunci dalam perpaduan tradisi dan inovasi ini adalah para ustaz dan guru MDT. Oleh karena itu, penguatan kapasitas teknis pedagogis serta peningkatan kesejahteraan guru MDT harus menjadi prioritas perjuangan FKDT.
Lima Pilar Strategis Penguatan Ekosistem MDT:
- Transformasi Kualitas Guru: Pelatihan metodologi pengajaran adaptif dan penguatan literasi digital pendidik.
- Kemitraan Strategis Pemerintah: Mendorong efektivitas Peraturan Daerah (Perda) Fasilitasi Pendidikan Keagamaan sebagai payung hukum afirmasi anggaran.
- Tata Kelola Digital: Pemanfaatan sistem data terpadu untuk pendataan lembaga, administrasi, dan kurikulum tanpa mengikis esensi tatap muka.
- Pemberdayaan Berbasis Ekosistem: Membangun kolaborasi konkrit antara keluarga, sekolah formal, masjid, perguruan tinggi, dan dunia usaha.
- Kepemimpinan Visioner: Melahirkan kader organisasi yang mahir membaca arah kebijakan publik jangka panjang.
Menatap Masa Depan Pendidikan Keagamaan
Keberhasilan pendidikan keagamaan pada akhirnya tidak hanya diukur dari hafalan tekstual atau kelulusan administratif para santrinya. Keberhasilan sejati tecermin ketika lulusan MDT mampu mengamalkan ilmunya, bersikap inklusif, mencintai tanah air, dan berkontribusi nyata di tengah masyarakat.
Dengan kepemimpinan yang visioner dan program kerja yang terukur, FKDT akan terus hadir bukan sekadar menjaga keberadaan MDT, melainkan mengantarkan pendidikan diniyah menjadi pilar transformasi karakter bagi masa depan Indonesia.