Oleh: Akhmad Sururi
(Ketua DPC FKDT Kabupaten Brebes)
Di tengah pusaran perubahan zaman yang bergerak serba cepat, indikator keberhasilan pendidikan tidak boleh terhenti pada sekadar pencapaian angka akademik semata. Anak-anak kita butuh penguasaan sains dan teknologi, namun pada saat yang sama mereka amat mendesak membutuhkan fondasi akhlak, keluhuran adab, keteguhan spiritualitas, serta kepedulian sosial yang mengakar.
Pembangunan karakter tidak mungkin dibebankan sepenuhnya kepada pundak sekolah formal. Ada peran keluarga, lingkungan masyarakat, kompleks pesantren, masjid, serta Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) yang selama ini konsisten menjadi pilar penempa kepribadian anak.
Hadirnya Peraturan Bupati Brebes Nomor 12 Tahun 2025 tentang Fasilitasi Pengembangan Madrasah Diniyah Takmiliyah memberikan momentum historis untuk mengokohkan kedudukan MDT dalam ekosistem pendidikan daerah. Perbup ini secara eksplisit menempatkan MDT sebagai entitas pendidikan keagamaan nonformal yang berkontribusi nyata dalam mencetak generasi berkarakter, berwawasan kebangsaan, dan berilmu agama.
Redefinisikan Peran: MDT Bukan Sekadar Pendidikan Tambahan
MDT selama ini sering kali disalahpahami sekadar sebagai "pendidikan tambahan" (complementary) seusai jam sekolah formal. Pandangan ini perlu diperluas secara fundamental.
MDT memegang fungsi strategis dalam pendalaman keilmuan Islam dan pembiasaan adab harian. Di madrasah diniyah, anak-anak tidak sekadar belajar membaca Al-Qur'an, Fikih, Akidah, Akhlak, Sejarah Islam, dan praktik ibadah. Lebih dari itu, mereka ditempa agar nilai-nilai agama tersebut terinternalisasi menjadi perilaku sosial.
"Internalisasi karakter seperti kejujuran, disiplin, ketakziman kepada guru dan orang tua, kesederhanaan, serta kepedulian lingkungan membutuhkan pembiasaan yang panjang dan terarah. Di sinilah MDT memegang ruang pengabdian yang amat krusial."
Sinergi Tanpa Menghilangkan Karakteristik
Integrasi antara sekolah formal dan MDT tidak berarti meleburkan kelembagaan atau mengikis kekhasan masing-masing. Integrasi adalah ikhtiar membangun kesinambungan nilai (value continuity).
- Sekolah Formal: Unggul dalam pengembangan literasi, sains, teknologi, serta keterampilan akademik.
- Madrasah Diniyah Takmiliyah: Unggul dalam penanaman spiritualitas, pemahaman turats, pembentukan adab, dan pembiasaan ibadah.
Keduanya dapat bertemu dalam satu muara: membidani lahirnya manusia yang berilmu pengetahuan sekaligus berakhlak mulia. Ketika sekolah formal mengajarkan teori kejujuran dan tanggung jawab, MDT memperkuatnya sebagai manifestasi keimanan.
Lima Poros Penguatan Integrasi Pendidikan di Brebes:
- Kemitraan Lintas Lembaga: Membangun forum komunikasi rutin antara kepala sekolah, kepala MDT, guru, ustaz, dan komite sekolah di tingkat desa/kecamatan.
- FKDT Sebagai Simpul Ekosistem: Mengoptimalkan FKDT sebagai perancang gagasan strategis dan penggerak kolaborasi antara Pemda, Kemenag, dan sekolah formal.
- Desa Sebagai Laboratorium Karakter: Mengintegrasikan program pembiasaan keagamaan di MDT dengan kegiatan sosial-kemasyarakatan di tingkat desa.
- Peningkatan Kompetensi Tenaga Pendidik: Menyelenggarakan pelatihan metodologi pengajaran dan literasi digital secara berkelanjutan bagi para guru MDT.
- Harmonisasi Peran Pendidik: Menempatkan guru sekolah formal dan ustaz MDT sebagai dua pilar pendidikan anak yang saling melengkapi.
Menyongsong Masa Depan Generasi Brebes
Pendidikan karakter akan hidup apabila ia dipraktikkan di tengah masyarakat, bukan sekadar tertulis di atas dokumen kurikulum. Pagi hari anak-anak menimba ilmu di sekolah formal, sore hari membina adab dan ilmu agama di MDT, serta malam hari mendapat keteladanan di dalam keluarga dan lingkungan masjid.
Jika seluruh elemen ini bergerak dalam satu irama, pendidikan karakter tidak lagi menjadi agenda seremonial belaka, melainkan tumbuh menjadi budaya hidup (culture of life).
Melalui momentum Perbup Brebes No. 12 Tahun 2025, integrasi antara MDT dan pendidikan formal harus diwujudkan secara konkret. Masa depan Kabupaten Brebes tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi pencapaian nilai akademik anak-anak kita, melainkan oleh seberapa kokoh karakter, akhlak, dan integritas moral yang mereka miliki.