Mengenang Jejak Perjuangan Tokoh NU Klampok pada Masa Pergolakan Politik 1965
WANASARI, BREBES — Peringatan Hari Santri bukan sekadar momentum seremonial untuk mengenang perjuangan para santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Lebih dari itu, Hari Santri menjadi ruang refleksi untuk menelusuri kembali jejak para ulama, kiai, dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang telah mengabdikan hidupnya bagi agama, organisasi, dan masyarakat.
Dalam semangat memperkuat ingatan sejarah tersebut, jajaran Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Wanasari menggelar ziarah ke makam para tokoh pendahulu NU. Salah satu sosok sentral yang diziarahi di Kecamatan Wanasari adalah H. Tadjoedin Noor bin H. Achmad Munadjad, tokoh NU Klampok yang pernah memimpin MWCNU Wanasari di tengah dinamika pergolakan politik nasional era 1960-an.
Pemimpin MWCNU di Tengah Pergolakan Politik 1965
H. Tadjoedin Noor bin H. Achmad Munadjad lahir di Desa Luwungragi, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes pada 7 Juli 1938 dan wafat pada 30 Agustus 2012 dalam usia 74 tahun. Dalam perjalanan hidupnya, ia memiliki keterikatan emosional dan historis yang kuat dengan Desa Klampok.
Kiprah kepemimpinannya berlangsung pada kurun waktu yang penuh tantangan pasca-pemisahan NU dari Masyumi menjadi partai politik tersendiri pada 1952, hingga krisis politik nasional 1965. Di tengah situasi geopolitik daerah yang dinamis pasca-pemberontakan G30S/PKI, H. Tadjoedin Noor dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua MWCNU Wanasari.
Berdasarkan riwayat keluarga dan penuturan kiai-kiai terdahulu, kepercayaan tersebut diberikan berkat ketegasan, keberanian, serta karakter pejuang yang melekat pada dirinya. Dukungan dan amanah tersebut di antaranya datang dari kiai-kiai kharismatik Brebes seperti KH. Maksum Dumeling dan KH. Sihabudin Tahmid.
Kiprah Parlemen, Banser, dan Pelopor Kebudayaan NU
Pengabdian H. Tadjoedin Noor tidak hanya terbatas pada ruang keorganisasian dan keagamaan, melainkan juga merambah ke ranah politik legislatif, kepemudaan, serta seni budaya:
- Anggota DPR-GR Kabupaten Brebes (1965): Putranya, Imron Adami Aji, mengonfirmasi bahwa almarhum merupakan wakil dari Partai NU di DPR-GR Kabupaten Brebes yang aktif menyuarakan aspirasi umat dan mengawal keberadaan organisasi di lembaga perwakilan.
- Komandan Banser (Satkorcab Brebes): Beliau dikenal pernah memimpin Barisan Ansor Serbaguna (Banser) di tingkat Kabupaten Brebes (Satkorcab Banser Brebes), menggerakkan pemuda NU dalam menjaga ulama dan benteng kebangsaan.
- Ketua Lesbumi Kabupaten Brebes: Dalam ranah kebudayaan, almarhum mengemban amanah sebagai Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Brebes, yang mengakar pada nilai-nilai keislaman dan kebudayaan Nusantara.
- Pendekar Pencak Silat: Karakter kepemimpinannya dipengaruhi oleh latar belakangnya sebagai jawara pencak silat dari perguruan SH (Setia Hati) Teratai Putih.
- Revitalisasi Sejarah Lisan: Mengumpulkan arsip, dokumen SK, dan wawancara saksi sejarah untuk menyusun kronik tulisan NU Wanasari yang sistematis.
- Penyambung Generasi: Menghubungkan keteladanan kader senior dengan semangat juang generasi muda nahdliyin.
- Perluasan Khidmah Kebudayaan & Sosial: Menghidupkan kembali peran Lesbumi, Banser, dan majelis taklim yang ramah masyarakat.
- Ziarah Berbasis Dampak: Menjadikan ziarah bukan sekadar doa seremonial, melainkan pijakan moral untuk menjawab tantangan zaman.
Kisah Rumah di Depan Makam Mbah Rubi:
Usai mengemban amanah di DPR-GR, atas anjuran kiai, H. Tadjoedin Noor membangun kediamannya di Desa Klampok, persis di depan makam waliullah Syekh Imron Nurudin (Mbah Rubi). Keberadaan rumah tersebut menegaskan hubungan spiritual dan keikatan keilmuan yang erat dengan tradisi ziarah serta penghormatan kepada ulama lokal.
Estafet Khidmah dalam Keluarga
Jejak pengabdian H. Tadjoedin Noor diteruskan oleh putranya, Imron Adami Aji, yang pernah mengabdi sebagai Anggota DPRD Kabupaten Brebes, Dewan Pakar Dewan Pendidikan Kabupaten Brebes, hingga menjadi Komisioner Dewan Pendidikan Kabupaten Brebes. Estafet ini memperlihatkan keberlanjutan peran keluarga dalam pelayanan publik dan pembangunan daerah di Kabupaten Brebes.
Empat Catatan Reflektif Ziarah Hari Santri MWCNU Wanasari:
Penutup: Ziarah, Sejarah, dan Perjuangan
Ziarah Hari Santri ke makam H. Tadjoedin Noor bin H. Achmad Munadjad menjadi pencerah bagi warga NU Wanasari bahwa kebesaran organisasi hari ini dirintis melalui keberanian, keringat, dan ketulusan para pendahulu.
Melalui keteladanan yang diwariskan almarhum, kader NU masa kini diajak untuk tidak melupakan akar sejarah, menjaga tradisi keilmuan, dan menguatkan khidmah keumatan.
"Ziarah adalah doa, sejarah adalah ingatan, dan pengabdian adalah cara terbaik meneruskan perjuangan para pendahulu."