FKDT Berkhidmat: Menebar Kebaikan dan Memberikan yang Terbaik untuk Umat

Oleh: Akhmad Sururi

​Pesan mendalam disampaikan oleh Ketua Dewan Pengurus Wilayah Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (DPW FKDT) Jawa Tengah, Kiai Abdul Rohman (Kiai Dur), dalam acara Halalbihalal DPC FKDT Kabupaten Jepara, Ahad, 12 April 2026. Pesan tersebut menjadi catatan krusial bagi seluruh pengurus FKDT dan guru Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) di mana pun berada: "Berkhidmatlah untuk Madrasah Diniyah dengan memberikan yang terbaik."

​Makna "memberikan yang terbaik" tidak hanya terbatas pada kinerja administratif, tetapi menyentuh aspek akhlak dalam berorganisasi. Kiai Dur mengingatkan agar pengurus memiliki sikap santun kepada siapa pun. Jangan sampai perilaku pengurus justru menyakiti anggota atau membuat mereka menjauh. Sebaliknya, pengurus FKDT harus menjadi perekat yang menyatukan seluruh elemen untuk membangun peradaban.

​Khidmat sebagai Ladang Amal yang Singkat

​Masa bakti lima tahun dalam satu periode kepengurusan hendaknya dipandang sebagai kesempatan emas untuk menebar manfaat. Lima tahun adalah waktu yang singkat, namun jika dikelola dengan progresivitas yang nyata, akan menghasilkan kemajuan signifikan bagi MDT.

​Kiai Dur mengutip sebuah kalimat reflektif: "Hiduplah sekehendakmu, karena sesungguhnya kamu akan mati." Kalimat ini menjadi pengingat bahwa hidup di dunia hanyalah sementara. Tantangannya adalah bagaimana hidup yang singkat ini mampu memberikan kemanfaatan luas bagi masyarakat, bangsa, dan negara, sembari menjaga diri dari berbagai godaan yang dapat merusak niat tulus dalam berjuang.

​Menjaga Jamaah dan Menghargai Perbedaan

​Sebagai pemimpin yang matang secara intelektual, pengurus FKDT diharapkan tidak mudah terpancing oleh fenomena yang dapat memecah belah. Kiai Dur mengambil contoh harmonisasi antara NU dan Muhammadiyah saat ini. Jika dahulu perbedaan praktik ibadah seperti qunut sering menjadi perdebatan, kini kedua organisasi tersebut dapat hidup berdampingan dengan saling menghormati demi kepentingan bangsa.

​Semangat serupa harus diimplementasikan di lingkungan pendidikan keagamaan. Meskipun saat ini terdapat berbagai wadah seperti FKDT, RMI, atau lainnya, semuanya harus menyatu dalam bingkai khidmat kepada umat. Kepentingan sektoral atau primordial harus ditanggalkan demi tujuan yang lebih besar, yakni mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

FKDT sebagai Rumah Besar Madrasah Diniyah

​Kiai Dur menegaskan bahwa FKDT adalah rumah besar bagi seluruh Madrasah Diniyah Takmiliyah, apa pun afiliasi organisasinya. FKDT menjadi wadah bersama untuk menyuarakan nasib MDT di Indonesia serta melakukan berbagai ikhtiar untuk meningkatkan mutu pendidikan.

​Mewujudkan MDT yang berkualitas berkaitan erat dengan tata kelola, mulai dari komponen pembelajaran hingga manajerial. Oleh karena itu, FKDT senantiasa membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperkuat pendidikan keagamaan.

​Menjaga Tradisi di Tengah Modernisasi

​Sebagai alumnus pesantren salaf, Kiai Dur memiliki komitmen kuat untuk menjaga tradisi dan ideologi pesantren. Pengajaran kitab turas, kesederhanaan, dan akhlakul karimah harus tetap menjadi ruh di lingkungan MDT. Namun, MDT tidak boleh menutup mata terhadap kemajuan teknologi informasi.

​Prinsip yang dipegang teguh adalah al-muhafazhatu 'alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah—menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil inovasi baru yang lebih baik.

​Penutup: Berkhidmat Menjemput Berkah

​Mengakhiri petuahnya, Kiai Dur menandaskan bahwa jalan khidmat adalah jalan menuju barakah. Menjadikan FKDT sebagai ladang pengabdian berarti sedang menebar benih kebaikan bagi masa depan Indonesia. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan kepada para pejuang diniyah dalam berkhidmat kepada bangsa dan negara melalui jalur pendidikan keagamaan.

Previous Post Next Post

ظ†ظ…ظˆط°ط¬ ط§ظ„ط§طھطµط§ظ„