Muktamar NU: Menuju Bisyaroh (Kebahagiaan) dengan Ketajaman Bashiroh (Mata Hati)

Oleh: Akhmad Sururi

(Sekretaris MWC NU Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes)

​Sebagai pengurus struktural Nahdlatul Ulama di tingkat kecamatan (MWC NU), dinamika perbincangan menjelang Muktamar NU senantiasa menjadi konsumsi intelektual harian yang menarik. Saban hari, melalui layar ponsel, berbagai analisis media online menyajikan isu seputar bursa Calon Ketua Umum PBNU, proyeksi Ahlul Halli wal Aqli (Ahwa), kriteria Rais Aam, hingga strategi besar organisasi untuk lima tahun mendatang.

​Di antara lalu lalang wacana tersebut, terdapat satu diskursus menarik yang mengemuka—bahkan sempat dibedah secara khusus dalam forum buku di Jakarta. Istilah tersebut adalah "Bisyaroh dan Bashiroh". Dua kata berbunyi mirip namun diposisikan secara diametral menjelang arena perhelatan tertinggi NU ini. Pasangan istilah ini dipopulerkan kembali oleh Rais Aam PBNU sekaligus Wakil Presiden RI periode 2019–2024, KH. Ma'ruf Amin.

​Pergeseran Makna Bisyaroh: Dari Keberkahan Menjadi Stigma

​Bagi warga Nahdliyin, kata bisyaroh adalah istilah yang sangat akrab. Secara kebahasaan, bisyaroh bermakna kabar gembira atau bentuk apresiasi (honor/insentif) bagi para kiai, mubalig, dan penceramah yang berkhidmat dalam majelis-majelis pengajian. Dalam penyusunan anggaran kegiatan PHBI, alokasi bisyaroh adalah hal yang lazim dan penuh dengan nilai penghormatan.

​Namun, ketika kata ini ditarik ke dalam riak politik muktamar, makna bisyaroh kerap mengalami pergeseran makna (majaz). Ia tidak lagi dipersepsikan sebagai bentuk kebahagiaan kultural, melainkan terdistorsi menjadi stigma negatif: ungkapan halus (eufemisme) untuk menyebut praktik risywah (sogokan atau politik uang) demi memuluskan kepentingan dukungan politis.

​Fenomena ini bukanlah kabar rekaan. Ia hadir sebagai rahasia umum yang dipahami publik, meski sering kali enggan dibicarakan secara terbuka.

Bashiroh: Melandasi Langkah dengan Ketajaman Ruhani

​Di sisi lain, Islam tradisi Aswaja mengajarkan pentingnya Bashiroh (dengan huruf shad). Dalam terminologi tasawuf dan kedalaman spiritual, bashiroh bermakna penglihatan mata hati, ketajaman intuisi ruhani, dan kecerdasan batin yang melampaui sekadar kalkulasi rasional.

​Sejarah mencatat bahwa kekuatan utama para Muassis (pendiri) dan ulama NU dalam menjaga marwah jam'iyyah terletak pada kedalaman bashiroh ini. Ketajaman batin para kiai sepuh menjadi benteng utama agar NU tidak mudah terombang-ambing oleh syahwat kekuasaan jangka pendek.

​Merekonsiliasi Bisyaroh dan Bashiroh

​Menggabungkan bisyaroh dan bashiroh dalam satu tarikan napas Muktamar NU bukanlah hal yang mustahil. Syarat utamanya adalah mengembalikan bisyaroh pada hakekat aslinya: sebuah kebahagiaan kolektif (basyiroh), bukan risywah yang terbungkus amplop.

Dua Pilar Ideal Perhelatan Muktamar:

  • Bisyaroh sebagai Basyiroh: Perhelatan muktamar harus disambut sebagai ajang silaturahmi yang menggembirakan, menyejukkan, dan mempererat ukhuwah antar-nahdliyin dari seluruh pelosok negeri.
  • Bashiroh sebagai Navigasi: Pemilihan kepemimpinan dan perumusan keputusan strategis harus dipandu oleh kejernihan mata hati, integritas, serta keikhlasan melayani umat.

​Semoga perhelatan Muktamar NU dapat berjalan dengan lancar, bermartabat, dan penuh keberkahan. Perpaduan antara ikhtiar organisasi yang matang dan doa yang bersumber dari ketajaman ruhani (bashiroh) akan melahirkan keputusan-keputusan mulia demi mengawal amanah besar para pendiri Nahdlatul Ulama.

Previous Post Next Post

ظ†ظ…ظˆط°ط¬ ط§ظ„ط§طھطµط§ظ„